Bermula dari Idealisme, LBH SORATICE Jadi Benteng Terakhir Kaum Marjinal
by : Lilik Setiyawan
by : Lilik Setiyawan
SOLO, lbhsolo.site - Berawal dari sebuah kepedulian terhadap persoalan sosial dan hukum yang membelit masyarakat rentan, Solo Raya Justice (SORATICE) hadir sebagai mercusuar harapan bagi pencari keadilan di wilayah Solo Raya dan sekitarnya. Organisasi yang kemudian melahirkan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) SORATICE ini menjadi manifestasi perjuangan untuk memberdayakan masyarakat dalam spektrum yang lebih luas.
Di balik berdirinya institusi yang kini menjadi rujukan advokasi hukum ini, ada sosok I Made Ridho Ramadhan—akrab disapa Made—yang dengan gigih meletakkan fondasi perjuangan. Visinya sederhana namun mengakar: memastikan akses keadilan bagi mereka yang terpinggirkan oleh sistem.
"Keadilan bukan privilese, tapi hak dasar yang harus bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat," tegas Made saat ditemui di kantornya, mengenang awal mula pendirian SORATICE yang kemudian berkembang menjadi lembaga bantuan hukum yang cukup dikenal luas.
Sejak berdiri pada Februari 2021, LBH SORATICE memfokuskan diri pada penanganan kasus-kasus yang kerap luput dari perhatian publik: kekerasan seksual, KDRT, kekerasan terhadap perempuan dan anak, serta pembelaan terhadap kaum miskin. Konsistensi lembaga ini dalam memberikan bantuan hukum secara pro bono (cuma-cuma) menjadikannya sebagai garda terdepan dalam perjuangan keadilan sosial.
"Kami meyakini bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang seseorang untuk mendapatkan pembelaan hukum yang layak," ungkap Made, yang kerap turun langsung menangani kasus-kasus sensitif.
LBH SORATICE tidak hanya berkutat pada penanganan kasus. Lembaga ini secara aktif menyelenggarakan berbagai program edukasi hukum, mulai dari seminar, pelatihan, hingga workshop yang melibatkan berbagai elemen masyarakat. Program-program ini menjadi wadah transfer pengetahuan yang efektif, terutama bagi mahasiswa dan aktivis yang ingin memperdalam pemahaman mereka tentang aspek teoretis dan praktis dalam dunia bantuan hukum.
"Kami percaya bahwa pengetahuan hukum harus disebarluaskan. Semakin banyak orang yang paham hukum, semakin kuat pula fondasi keadilan di masyarakat," jelas Made, yang juga aktif sebagai pembicara di berbagai forum hukum.
Yang menarik, LBH SORATICE berhasil membangun jejaring yang kuat dengan berbagai stakeholder, mulai dari kampus hingga organisasi masyarakat sipil. Kolaborasi ini memperkuat kapasitas lembaga dalam memberikan pendampingan hukum yang komprehensif.
Dalam tiga tahun perjalanannya, LBH SORATICE telah menangani ratusan kasus dan melatih puluhan relawan bantuan hukum. Prestasi ini menjadikan lembaga ini sebagai referensi utama bagi institusi pendidikan tinggi dan organisasi masyarakat yang ingin mengembangkan program bantuan hukum serupa.
"Ke depan, kami berkomitmen untuk terus memperluas jangkauan layanan dan meningkatkan kualitas pendampingan. Karena bagi kami, setiap orang berhak mendapatkan akses terhadap keadilan," tutup Made, menegaskan visi LBH SORATICE yang akan terus relevan dengan dinamika sosial.
Kehadiran LBH SORATICE tidak hanya mengisi kekosongan dalam lanskap bantuan hukum di Solo Raya, tetapi juga memberikan model yang bisa direplikasi di daerah lain. Sebuah bukti bahwa idealisme, jika dikawal dengan konsistensi dan profesionalisme, dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat.